Technical SEO Audit, Apa Itu dan Bagaimana Cara Melakukannya?

Ingin tahu apakah teknik SEO yang Anda terapkan bekerja dengan benar? Solusinya, lakukan technical SEO audit. Begini panduannya!
Share on twitter
Share on linkedin
Share on facebook

Search engine optimization (SEO) dilakukan dengan tujuan utama meningkatkan performa website. Tolok ukur kesuksesannya beragam, seperti bounce rate, conversion rate, engagement rate, ranking kata kunci, dan lain sebagainya. Selanjutnya, website pun bisa memperoleh traffic tinggi yang bersumber dari mesin pencari.

Hanya saja, penerapan teknik SEO oleh setiap pemilik website biasanya akan memiliki permasalahan tersendiri. Penggunaan content management system (CMS) semacam WordPress, Shopify, ataupun Joomla mampu meminimalkan risiko terjadinya permasalahan teknis. Namun, situasinya tentu akan berbeda untuk website berskala besar.

Website berskala besar punya kecenderungan melakukan akumulasi untuk setiap permasalahan teknis. Oleh karenanya, Anda perlu mendedikasikan waktu secara khusus untuk proses analisis serta perbaikannya. Kabar baiknya, perbaikan kecil bisa berdampak sangat masif pada keseluruhan sistem.

Pelaksanaan technical SEO audit untuk setiap website berbeda-beda. Untuk website kecil dan sederhana, Anda tak perlu melakukan audit teknis. Sebagai gantinya, Anda bisa memakai website quality audit (WQA). Sementara itu, website berskala besar memerlukan audit teknis yang mendalam.

Penjelasan tentang technical SEO audit mustahil dilakukan cukup dengan satu buku ini saja. Praktisi SEO berpengalaman tentu paham tentang hal ini. Untuk memahaminya secara mendalam, Anda perlu mengikuti kursus intensif khusus.

Sebagai gantinya, buku ini akan membantu Anda melakukan audit teknis secara sederhana. Di sini, Anda bisa menemukan berbagai permasalahan yang sering dihadapi oleh para pemilik website. Tidak hanya itu, Anda juga bakal mendapatkan pengetahuan tentang cara mengatasinya.

15 Kesalahan Teknis SEO yang Paling Sering Dilakukan dan Cara Mengatasinya

Dalam kurun satu tahun terakhir, kami telah melakukan technical SEO audit lebih dari 100 website klien. Dari pengalaman itu, kami berhasil mengumpulkan adanya persamaan masalah dari para klien. Secara total, ada 15 kesalahan teknis yang paling sering terjadi, dan kami punya cara paling efektif untuk mengatasinya.

1. Kesalahan pengaturan halaman ‘404’

Keberadaan halaman ‘404’ jadi problem yang sering menimpa website klien, khususnya ecommerce. Penyebabnya adalah karena terdapat produk yang dihapus dari daftar jualan. Meski begitu, URL halaman tersebut masih ada dan menimbulkan kemunculan masalah ‘404’.

Kesalahan 404 bisa terjadi karena berbagai sebab, seperti:

  • URL atau konten sudah dihapus atau dipindahkan.
  • Penulisan URL yang salah.
  • Kesalahan terkait koneksi server.
  • Domain tak bisa ditemukan.

Adanya kesalahan ‘404’ pada website sebenarnya cukup lumrah. Google pun memahami hal tersebut. Hanya saja, halaman itu bisa menjadi permasalahan kalau:

  • Mendapatkan traffic secara rutin, baik dari search engine atau internal link
  • Terhubung dengan link eksternal
  • Mempunyai internal link
  • Dibagikan ke media sosial
  • Jumlahnya cukup banyak

Solusi untuk menangani halaman ‘404’ adalah mengatur redirect 301 ke halaman yang relevan. Praktik ini sering dilakukan oleh para pemilik website. Namun, ada pula sebagian website yang melakukan redirect ke homepage. Hal ini sebaiknya dihindari karena berdampak buruk pada SEO dan mengganggu kenyamanan pengunjung halaman tersebut.

Cara Menemukan Error ‘404’

  • Jalankan crawling website secara menyeluruh. Ada berbagai situs yang bisa dimanfaatkan untuk melakukannya, seperti Site Bulb, Screaming Frog, ataupun DeepCrawl.
  • Cek pada bagian reporting Google Search Console. Anda bisa menemukannya dengan menuju ke Crawl > Crawl Error

Cara Mengatasi Error ‘404’

  • Analisis daftar kesalahan ‘404’ yang ada pada website.
  • Lakukan pemeriksaan kembali pada URL halaman ‘404’ melalui Google Analytics. Tujuannya untuk mengetahui URL yang memperoleh traffic.
  • Cek masing-masing URL memakai Google Search Console untuk mengetahui halaman ‘404’ yang punya inbound link dari website
  • Lakukan analisis untuk mengetahui URL yang relevan dengan halaman ‘404’.
  • Laksanakan pengaturan pada server untuk melakukan redirect 301 pada halaman ‘404’. Saat menerapkannya, Anda perlu memastikan bahwa halaman tujuan masih berfungsi dan tidak berdampak buruk pada kenyamanan pengunjung.

2. Migrasi website

Perusahaan terkadang ingin membuat website dengan tampilan baru. Kebijakan ini sering dilakukan tidak hanya perusahaan besar, tetapi juga oleh para pelaku usaha kecil dan menengah. Ada beberapa alasan yang membuat kenapa mereka perlu melakukannya, di antaranya adalah:

  • Penggantian URL. Ada kalanya pemilik website menginginkan URL yang terlihat lebih sederhana.
  • Peluncuran desain website Ketika seseorang menginginkan website dengan tampilan baru, pilihan yang sering dilakukan adalah migrasi. Pada prosesnya, mereka bisa menambahkan, mengubah, ataupun menghilangkan konten tertentu.
  • Perubahan arsitektur website dan struktur URL. Alasan ini sering jadi landasan utama ketika seseorang tidak puas dengan arsitektur serta struktur URL website
  • Beralih dari HTTP menuju HTTPS. Langkah ini sangat krusial karena menjadi salah satu parameter penilaian SEO Google.
  • Penggantian layanan hosting. Kebijakan ini diambil ketika seseorang merasa tidak puas dengan layanan provider langganannya.
  • Penggabungan website. Kalau Anda punya beberapa website dan ingin menggabungkannya jadi satu situs, migrasi adalah jawabannya. Hal serupa juga dilakukan saat Anda berhasil mengakuisisi bisnis baru.

Apa pun alasannya, proses migrasi website harus Anda lakukan dengan cermat. Tampilan website baru berdampak pada perubahan desain serta keberadaan halaman baru. Selain itu, Anda juga bakal berhadapan dengan berbagai aspek teknis terkait.

Pada praktiknya, proses migrasi website sering menimbulkan berbagai permasalahan. Hal itu terjadi karena terdapat kesalahan yang dilakukan. Jenis kesalahan umum yang sering kami temukan antara lain:

  • Penggunaan redirect 302. Pemakaian redirect 302 tidak tepat ketika Anda melakukan migrasi website. Alasannya, karena redirect 302 digunakan untuk pengalihan sementara. Di samping itu, cara pengalihan menggunakan 302 juga tidak berdampak pada SEO. Oleh karena itu, gantikan redirect 302 dengan 301 (permanen).
  • Pengaturan HTTPS yang tidak benar. Anda perlu mengarahkan versi HTTP menuju ke halaman yang telah menggunakan HTTPS. Tujuannya adalah untuk menghindari adanya duplikasi halaman.
  • Tidak melakukan redirect 301 dari website lama ke yang baru. Kejadian ini sering terjadi kalau Anda menggunakan plugin untuk keperluan redirect Untuk menghindari permasalahan ini, Anda dapat melakukan pengaturan pada halaman cPanel.
  • Staging domain dalam kondisi terindeks. Penggunaan staging domain ataupun subdomain bertujuan sebagai sarana uji coba. Oleh karenanya, Anda perlu memastikan bahwa keberadaannya tidak sampai masuk dalam SERP. Caranya, Anda bisa menggunakan tag NOINDEX atau memblokir robot crawler melalui Robots.txt.
  • Menciptakan ‘redirect chains’ saat membersihkan website Permasalahan ini bisa timbul karena proses identifikasi yang buruk. Alhasil, halaman yang sebelumnya telah di-redirect mendapatkan redirect baru.
  • Tak melakukan penyimpanan force www atau non www pada file .htaccess. Kesalahan teknis ini akan menimbulkan permasalahan duplikasi halaman. Terlebih, berkas .htaccess dibuat dengan tujuan melakukan redirect dari www ke non www atau sebaliknya.

Cara menemukan kesalahan akibat migrasi website:

  • Lakukan crawl website secara penuh untuk memperoleh data masukan yang dibutuhkan.

Cara mengatasi masalah yang terjadi saat migrasi website:

  • Periksa kembali setiap redirect 301 termigrasi dengan benar.
  • Uji setiap redirect 301 dan 302, dan pastikan pengalihan tersebut mengarah ke tujuan yang benar.
  • Periksa tags canonical untuk memastikan bahwa pemakaiannya tepat.
  • Di antara dua pilihan—redirect 301 dan pemakaian tag canonical, pilihan pertama lebih aman.
  • Periksa kode website untuk memastikan bahwa Anda telah menghapus tags Penghapusan itu perlu dilakukan kalau Anda menggunakannya pada tahap staging domain.
  • Update filetxt.

Periksa dan perbarui file .htaccess.

3. Kecepatan website

Tingkat kecepatan website jadi parameter SEO Google yang sangat penting. Oleh sebab itu, para pemilik website berupaya menghadirkan desain tampilan yang tak membuat pengunjung menunggu lama. Kalau bisa, load time website hanya perlu sekitar 1 – 2 detik.

Dalam bisnis online, time is money mempunyai makna secara harfiah. Hal ini terungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Amazon. Lebih dari satu dekade lalu, perusahaan ecommerce terbesar dunia itu mengungkapkan kalau penambahan load time website sebesar 100 mili detik menimbulkan penurunan angka penjualan sekitar 1%.

Bagi para pelaku bisnis online, penurunan angka penjualan tersebut merupakan mimpi buruk. Meskipun, omzet totalnya tidak sebesar Amazon, apalagi kalau penurunan itu berlangsung secara terus-menerus tanpa dilakukan perbaikan. Angka kerugiannya bisa sangat besar dan bahkan berpeluang membuat bisnis bangkrut.

Berkaitan dengan load time website, ada banyak faktor yang menjadi penyebab utamanya, antara lain:

  • Gambar yang tidak teroptimasi
  • Waktu respons server yang lambat
  • Jumlah redirect 301 terlalu banyak
  • Website tidak responsif
  • Penggunaan plugin terlalu banyak
  • Javascript dan CSS yang terlalu berat
  • Kode website yang ditulis dengan buruk

Dengan begitu banyaknya pemicu load time website yang lambat, Anda perlu melakukan penanganan secara tepat. Ditambah lagi, upaya perbaikannya memerlukan keahlian tentang web development. Biayanya perbaikannya pun bakal cukup besar, tetapi menjanjikan hasil yang sesuai dengan manfaatnya.

Cara mengetahui kesalahan terkait load time website:

  • Proses pengecekan bisa Anda lakukan secara gratis menggunakan tool di internet. Pilihannya antara lain adalah Google PageSpeed Insight, Pingdom, serta GTMetrix.

Cara mengatasi load time website yang lama:

  • Rekrut seorang developer yang punya pengalaman berkaitan dengan permasalahan ini.
  • Pastikan bahwa Anda telah melakukan pengaturan sehingga terdapat staging domain. Tujuannya agar performa website tidak terganggu selama proses perbaikan.

Kalau Anda menggunakan CMS berbasis PHP seperti WordPress, pastikan bahwa sistemnya telah menggunakan versi PHP terbaru.

4. Tampilan tak mobile friendly

Sejak 2015, Google mengedepankan website yang punya tampilan teroptimasi untuk perangkat mobile. Mereka pun meluncurkan algoritma Mobilegeddon untuk menerapkannya. Website yang memiliki user experience buruk di mata para pengguna perangkat mobile, dipastikan bakal mendapatkan penilaian buruk oleh Google.

Oleh karenanya, Anda perlu mendesain agar tampilan website tidak hanya optimal pada perangkat desktop, tetapi juga perangkat mobile. Terlebih, angka penggunaan perangkat mobile terus mengalami peningkatan. Keduanya perlu didesain sehingga memberikan user experience nyaman.

Beberapa parameter yang dapat digunakan untuk menilai kualitas optimasi mobile website di antaranya:

  • Desain tampilan responsif. Website mampu menampilkan konten yang sama ketika dikunjungi menggunakan perangkat desktop ataupun mobile. Keduanya menggunakan URL, gambar, HTML, serta data lainnya yang sama.
  • Tidak ada konten tersembunyi. Jangan sampai ada iklan pop up yang membuat pengunjung kesulitan melihat konten website.
  • Mempunyai load time yang cepat. Dibandingkan pengguna desktop, kunjungan melalui perangkat mobile punya risiko bounce rate 5 kali lebih tinggi. Mereka pun bakal memilih meninggalkan website kalau harus menunggu lebih dari 3 detik.
  • Plugin terlalu banyak. Tak semua plugin mampu bekerja dengan baik pada perangkat mobile, termasuk di antaranya adalah Java, Flash, atau Silverlight. Sebagai solusinya, Anda dapat menggunakan HTML5.
  • Kemudahan navigasi. Sistem navigasi website yang buruk membuat hampir 40% pengunjung mobile beralih ke kompetitor. Untuk memberi kemudahan navigasi, Anda bisa mendesain website secara vertikal, disertai tombol home berukuran besar. Hindari pemakaian menu drop-down. Tak ketinggalan, gunakan ukuran font yang membuat para pengunjung bisa membacanya tanpa perlu zoom.

Cara mengetahui permasalahan terkait tampilan tak mobile friendly:

  • Cek melalui halaman Mobile-Friendly Test Google.
  • Periksa apakah website sudah di-crawl oleh Googlebot smartphone atau tidak. Caranya bisa dilakukan lewat Google Search Console.
  • Pastikan website punya load time sama ketika dibuka melalui berbagai jenis perangkat. Oleh karenanya, Anda perlu melakukan pemeriksaan secara langsung.
  • Lakukan pemeriksaan mendalam untuk mengetahui tidak ada pesan error untuk semua halaman. Caranya, kunjungi setiap halaman melalui perangkat mobile.

Cara mengatasi website tak mobile friendly:

  • Ketahui dampak beban server akibat pengaturan desain mobile website. Pastikan bahwa pengaturan tampilan mobile tidak terlalu membebani server.
  • Fokus pada upaya membangun website dengan perspektif mobile-first. Desain tampilan yang responsif perlu jadi pertimbangan utama. Namun, kalau Anda hanya menjalankan subdirektori tunggal, pengaturan m.domain-anda.com dapat meningkatkan potensi crawling oleh Googlebot.
  • Pertimbangkan untuk menggunakan template baru yang responsif. Pengguna WordPress bisa memilih membeli template Selain itu, ada pula pertimbangan merekrut developer untuk membangun template responsif mulai dari nol.
  • Fokuskan peningkatan user experience mobile secara umum. Jangan terpaku pada salah satu merek produk, sebagai contoh, iPhone X, Samsung Galaxy Fold, dan sebagainya.
  • Lakukan pengujian pada perangkat iPhone dan Android.

Pertimbangkan menggunakan HTML5 untuk menghindari munculnya pesan error karena plugin yang tak bekerja. Terlebih, Google Web Designer memungkinkan Anda membangun kembali file FLASH menggunakan HTML.

5. XML sitemap

Adanya XML sitemap bertujuan memudahkan Googlebot melakukan crawling pada website sehingga bisa terindeks lebih cepat. Di sini, Anda dapat mencantumkan halaman penting. Pada beberapa kasus, Googlebot mengalami kesulitan menemukan halaman tertentu.

Googlebot bekerja tidak dengan menjelajahi keseluruhan halaman website. Ada banyak informasi yang kerap diabaikan Google. Namun, Anda tentu punya pandangan lain terkait hal ini. Terlebih, website dengan struktur yang kompleks bisa mendapatkan manfaat besar lewat penggunaan XML sitemap.

Berkaitan dengan sitemap, Anda perlu mengetahui bahwa terdapat dua jenis sitemap. Pertama adalah XML sitemap dan selanjutnya ialah HTML sitemap. Keduanya punya fungsi berbeda. HTML sitemap ditujukan dengan fungsi untuk memberi kemudahan navigasi pengunjung website.

Penggunaan XML sitemap pun mampu menghadirkan manfaat bagi website karena:

  • Tak semua halaman bisa diakses karena keterbatasan desain tampilan website.
  • Webmaster yang menggunakan konten berbasis Flash, Silverlight, ataupun Ajax secara default tidak diproses oleh search engine.
  • Ukuran website yang sangat besar kemungkinan membuat crawler mengesampingkan beberapa konten penting atau terbaru.
  • Website yang mempunyai banyak halaman terisolasi, yang tak mempunyai internal link dengan halaman lain.
  • Memastikan bahwa crawler hanya mengunjungi halaman penting dan berguna bagi visitor. Untuk halaman yang dianggap tak penting, Anda bisa menambahkan fungsi NOINDEX biar tidak di-crawl

Cara mengetahui adanya kesalahan terkait penggunaan XML sitemap:

  • Pastikan Anda sudah melakukan submit XML sitemap pada Google Search Console.
  • Aktivitas SEO memang difokuskan untuk Google. Namun, tak ada salahnya kalau Anda juga men-submit sitemap ke tool webmaster
  • Periksa apakah terjadi error saat crawl Caranya, Anda bisa menuju ke Crawl > Sitemap > Sitemap Error.
  • Cek file log untuk memeriksa waktu kunjungan terakhir Googlebots di sitemap.

Cara mengatasi error XML sitemap:

  • Pastikan kalau XML sitemap sudah terhubung dengan akun Google Search Console.
  • Jalankan analisis server log untuk memahami seberapa sering Google melakukan crawling
  • Google akan menginformasikan ketika terjadi permasalahan dan contoh cara penanganan berdasarkan pesan error-nya.
  • Kalau Anda membuat sitemap menggunakan plugin, pastikan memakai versi update

Pemeriksaan log server bisa dilakukan dengan memakai aplikasi Excel. Sebagai alternatif, ada pula perangkat lunak lainnya, seperti Logz.io, Graylog, SEOlyzer, ataupun Loggly.

6. Struktur URL

Setiap website perlu dibangun dengan struktur URL jelas. Pemakaiannya memperlihatkan hierarki pada website tersebut. Terdapat dua keuntungan utama yang bisa Anda dapatkan ketika menerapkan struktur URL rapi, yaitu:

  • User experience. Penggunaan struktur URL rapi membuat user experience para pengunjung jadi lebih nyaman. Mereka bakal lebih mudah memahami terkait konten yang akan dibahas pada halaman tujuannya. Kalaupun title tag halaman tersebut tersembunyi, pengguna search engine masih bisa memperkirakan isinya setelah melihat URL.
  • Ranking. Tidak hanya berguna dalam meningkatkan user experience, pemakaian struktur URL yang baik juga berdampak positif pada rangking SEO Google. Alasannya, karena pengaturan URL itu memberi kemudahan bagi Googlebot saat melakukan crawling.

Ada cara yang dapat digunakan untuk memastikan bahwa struktur URL tertata rapi dan bisa menghadirkan manfaat, yaitu:

  • Susun URL secara sederhana dan tetap relevan dengan konten
  • URL harus dibuat secara definitif dan tetap ringkas.
  • Agar mudah dibaca, Anda bisa memanfaatkan tanda hubung.
  • Gunakan huruf kecil. Pada berbagai kasus, pemakaian huruf kapital pada URL berpotensi dianggap sebagai konten duplikat oleh Google.

Meski manfaatnya cukup krusial, ada kalanya pemilik website abai terhadap struktur URL. Terlebih, kalau website sudah berkembang menjadi berukuran sangat besar. Alhasil, website mempunyai struktur yang buruk dan ditandai dengan adanya ciri sebagai berikut:

  • Struktur dan hierarki antara masing-masing halaman yang tidak jelas
  • Tidak menggunakan pengaturan folder dan subfolder secara tepat
  • URL yang disertai karakter khusus, huruf besar, dan sejenisnya bakal menyulitkan navigasi oleh pengunjung

Cara menemukan kesalahan struktur website:

  • Kesalahan 404, redirect 302, serta permasalahan XML sitemap merupakan indikasi kalau website punya error
  • Jalankan crawling website Setelah itu, lakukan review secara manual untuk mengetahui ada tidaknya kesalahan.
  • Periksa laporan Google Search Console (Crawl > Crawl Errors).
  • Pengujian oleh pengunjung. Caranya, Anda dapat meminta para visitor website untuk mengunjungi konten tertentu untuk tujuan pengujian. Hanya saja, cara pengujian seperti ini kerap dibarengi dengan biaya cukup besar.

Cara mengatasi kesalahan pada struktur website:

  • Rencanakan hierarki website. Kami merekomendasikan penggunaan folder dengan struktur parent – child.
  • Periksa keseluruhan konten untuk memastikan semua konten berada pada folder dan subfolder yang tepat.
  • Pastikan bahwa URL bisa dibaca dengan mudah dan gampang dipahami.
  • Hapus atau lakukan konsolidasi pada konten yang menggunakan kata kunci sama.

Batasi jumlah subfolder atau direktori hanya mencapai 3 tingkatan. Kalau lebih dari itu,  kemungkinan bakal mengalami permasalahan terkait navigasinya.

7. File robots.txt

Robots.txt mempunyai kegunaan untuk memberi tahu Googlebot terkait halaman website yang perlu di-crawl. File yang sama juga bermanfaat untuk menginformasikan kepada Googlebot berkaitan dengan adanya halaman-halaman tertentu yang sifatnya tidak penting dan tak perlu di-crawl.

Hanya saja, tidak semua pemilik website mengetahui kegunaan file robots.txt. Kalau Anda tak memahami kegunaannya, hal tersebut akan berpengaruh pada proses pengindeksan oleh Google. Hal yang sering terjadi, pemilik website tidak meng-update robots.txt ketika beralih dari staging domain. Selain itu, kesalahan penggunaan sintaks juga cukup sering terjadi.

Untuk memahami apa yang dimaksud dengan file robots.txt, Anda dapat melihat contoh sederhananya sebagai berikut:

User-agent: *

Disallow: /wp-admin/

Allow: /wp-admin/admin-ajax.php

Cara mengetahui kesalahan robots.txt:

  • Cek statistik website menggunakan Google Analytics. Penurunan traffic secara signifikan merupakan salah satu indikatornya.
  • Periksa laporan Google Search Console, lalu menuju ke Crawl > robots.txt test.

Cara mengatasi kesalahan robots.txt:

  • Pengecekan laporan Google Search Console berguna untuk mengetahui validasi file.
  • Periksa apakah daftar halaman atau folder yang seharusnya tidak di-crawl sudah tercantum dalam berkas robots.txt.

Cek apakah Anda secara tidak sengaja memblokir akses Googlebots ke direktori penting, seperti 404, JS, CSS, dan semacamnya.

8. Terlalu banyak konten tak berbobot

Berkaitan dengan pembuatan konten, Anda perlu memastikan kalau kualitasnya terjaga dengan baik. Jangan menyusun konten secara ala kadarnya. Google menginginkan para pemilik website menghadirkan informasi secara mendalam dan berbobot.

Konten tak berbobot itu dapat berupa konten duplikat, auto generated content (AGC), ataupun dibuat dengan bantuan article spinner. Proses pembuatan konten-konten tersebut pun bisa dilakukan dengan singkat. Terlebih, Anda tak perlu melakukan riset apa pun.

Lalu, bagaimana cara membuat konten berkualitas? Terdapat beberapa kriteria yang perlu Anda pahami agar bisa membuat konten berkualitas, yakni:

  • Ukuran konten. Usahakan untuk membuat artikel dengan ukuran lebih dari 500 kata. Selain itu, tambahkan media lainnya seperti video ataupun gambar di dalamnya.
  • Keunikan konten. Setiap konten yang dimiliki harus unik, bukan hasil duplikasi. Keunikan tersebut juga bisa didapatkan kalau Anda membuatnya dengan sudut pandang berbeda.
  • Konten website juga harus memberi manfaat bagi para pengunjung. Oleh karenanya, Anda perlu mengetahui segmen audience terlebih dahulu sebelum membuat konten. Selanjutnya, penyusunan konten dilakukan berdasarkan tingkat kebutuhan mereka.
  • Mendorong interaksi. Kualitas konten juga bisa diketahui dari kemampuannya untuk mendorong interaksi dengan para pengunjung. Interaksi itu bisa beragam, seperti berkomentar, membagikan di media sosial, dan sebagainya.

Lalu, bagaimana kalau website ternyata memiliki konten tak berbobot dalam jumlah banyak? Bisa dipastikan Anda akan memperoleh peringkat rendah di SERP.

Kalaupun Anda tak bisa membangun konten berkualitas dalam jumlah banyak, ada satu cara yang bisa dilakukan. Solusinya adalah membangun konten mendalam dengan jumlah kata banyak. Pendekatan seperti ini menjadi cara yang sering kami lakukan dan terbukti mampu menghasilkan interaksi tinggi serta rangking SERP tinggi.

Cara mengetahui kesalahan konten tak berbobot terlalu banyak:

  • Jalankan crawling pada konten berukuran kurang dari 500 kata.
  • Periksa pesan manual dari Google di Google Search Console, caranya GSC > message.
  • Konten yang tiba-tiba mengalami penurunan peringkat secara drastis.
  • Cek data terkait bounce rate dan durasi rata-rata para pengunjung di dalam website. Tingginya bounce rate kemungkinan memiliki keterkaitan dengan banyaknya konten tak berbobot.

Cara mengatasi masalah konten tak berbobot:

  • Alih-alih menyusun konten berdasarkan keyword, pertimbangkan melakukannya dengan menyesuaikan kesamaan topik atau tema. Di situ, Anda bisa menggunakan beberapa kata kunci sekaligus dan membuatnya jadi lebih luas serta mendalam.
  • Cari tahu apa yang diinginkan oleh para pengunjung website. Anda dapat memosisikan diri sendiri sebagai seorang visitor. Dari situ, Anda akan memperoleh jawabannya.

Pertimbangkan untuk menyediakan variasi konten. Jangan hanya membuat konten berupa artikel. Hadirkan pula konten lainnya seperti infografis, video, audio, dan lain sebagainya. Variasi konten seperti ini akan membuat website jadi lebih menarik dan mendorong pengunjung melakukan interaksi.

9. Banyak konten yang tak relevan

Anda mungkin sudah menghadirkan konten berbobot. Namun, konten tersebut tidak akan berdampak besar pada SEO kalau isinya tidak relevan. Alhasil, para pengunjung pun bakal merasakan kalau konten website tidak bernilai bagi mereka.

Konten yang relevan menjadi salah satu faktor penting bagi Google dalam menilai authority. Google lebih mengedepankan authority dibandingkan ukuran sebuah website. Hal ini sesuai dengan tujuan mereka yang ingin menghadirkan konten tepercaya dan bermanfaat bagi para penggunanya.

Di sisi lain, banyak pemilik website yang menghadirkan konten membosankan kepada para pengunjungnya. Tak cukup sampai di situ saja. Mereka juga tidak melakukan manajemen secara bagus sehingga membiarkan Googlebot melakukan crawling pada konten atau halaman yang tak relevan.

Cara mengetahui kesalahan terkait konten tak relevan:

  • Review kembali strategi konten. Fokuskan pengembangan konten berkualitas dibandingkan artikel yang dibuat ala kadarnya.
  • Periksa Google Search Console untuk mengetahui aktivitas crawling Cari tahu halaman yang terindeks ataupun di-crawl Google.

Cara mengatasi adanya kesalahan konten tak relevan:

  • Jangan berfokus pada kuota konten. Alih-alih mengedepankan kuantitas, Anda perlu mempertimbangkan kualitas konten.

Blokir akses Googlebot ke halaman atau konten tak relevan. Caranya, bisa dilakukan dengan memanfaatkan file robots.txt. Sebaliknya, arahkan Googlebot ke halaman terbaik di website.

10. Penyalahgunaan tag canonical

Tag canonical disediakan Google sebagai solusi ketika sebuah website punya konten mirip. Tujuannya, agar salah satu konten muncul dalam SERP. Dengan cara ini, Anda dapat menghindari deteksi konten duplikat oleh Google. Tag ini berupa kode HTML, dengan cara penggunaan sebagai berikut:

“rel=canonical”

Anda dapat menuliskan kode tersebut secara manual. Beberapa plugin di WordPress ataupun Shopify juga menyediakan cara praktis dalam menggunakan tag canonical. Hanya saja, para pemilik website sering menyalahgunakan tag ini, seperti:

  • Penggunaan tag pada halaman yang tak relevan
  • Tags mengarah ke halaman 404
  • CMS yang menciptakan dua versi halaman yang sama
  • ecommerce dan “faceted URL”

Penyalahgunaan tag canonical merupakan masalah serius yang bisa berdampak negatif pada SEO. Pada situasi tersebut, Anda meminta search engine untuk menampilkan halaman yang salah pada SERP. Kalau hal ini terjadi pada halaman yang bernilai tinggi, Anda akan kehilangan traffic signifikan.

Cara mengetahui adanya penyalahgunaan tag canonical:

  • Jalankan crawl menggunakan Screaming Frog
  • Bandingkan “Canonical link element” dengan root URL untuk mengetahui halaman dengan tag canonical yang mengarah ke page

Cara mengatasi kesalahan penggunaan tag canonical:

  • Review halaman untuk memastikan bahwa tag canonical digunakan pada page tepat atau tidak.

Lakukan audit pada konten yang mempunyai isi mirip. Setelah itu, Anda bisa menilai apakah konten mirip itu memerlukan tag canonical atau tidak.

11. Penyalahgunaan tag robots

Selain file robots.txt, Anda juga akan menemukan pemakaian tag robot yang biasanya ditempatkan pada bagian header. Cara penggunaan seperti itu sangat lumrah. Hanya saja, permasalahan bisa muncul kalau Anda menggunakannya berulang kali pada halaman yang sama. Optimasi tidak akan berjalan dengan baik dan membuat ranking-nya turun.

Cara menemukan kesalahan pemakaian tag robots:

  • Periksa source code setiap halaman website. Pastikan bahwa masing-masing halaman hanya punya satu tag
  • Ketahui cara penggunaan tag Jangan sampai salah mengenali atribut nofollow link sebagai tag nofollow robots.

Cara mengatasi kesalahan penyalahgunaan tag robots:

  • Tentukan cara Anda mengatur aktivitas robot di website. Cara paling ringkas, yakni Anda bisa menggunakan plugin Yoast SEO yang menyediakan solusi mengatur pergerakan robot berdasarkan level halaman.
  • Bagi para pengguna WordPress, Anda dapat menggunakan setidaknya satu plugin yang berfungsi mengatur aktivitas robot.
  • Kalau Anda menggunakan template WordPress, pastikan untuk melakukan perubahan manual untuk menambahkan tag Caranya adalah dengan menuju ke Appereance > Themes > Editor > header.php.

Tambahkan nofollow directive pada file robots.txt.

12. Kesalahan pengaturan crawl budget

Seperti yang sudah diketahui, Google tidak memerintahkan Googlebot untuk melakukan crawling pada setiap halaman secara instan. Proses crawling bisa memakan waktu mencapai berminggu-minggu dan bahkan bulanan. Dengan cara kerja seperti itu, Anda bakal mengalami kesulitan ketika ingin mengoptimasi halaman baru.

Setiap harinya, Google menetapkan jumlah halaman yang perlu di-crawl pada sebuah website. Hal inilah yang dikenal dengan istilah crawl budget. Jumlah crawl budget sebuah website bisa saja mengalami perbedaan dari hari ke hari. Namun, secara umum jumlahnya tidak memiliki perbedaan signifikan.

Selain itu, crawl budget untuk setiap website juga punya perbedaan. Sebagai contoh, website Anda punya crawl budget sebanyak 6 halaman. Namun, tak menutup kemungkinan ada situs lain yang memiliki crawl budget mencapai 1.000 page setiap harinya.

Cara penentuan crawl budget oleh Google dipengaruhi oleh berbagai faktor. Ukuran merupakan salah satunya. Selain itu, Google juga menetapkan crawl budget berdasarkan tingkat kesehatan website. Kalau mereka sering menemukan adanya error saat crawling, maka crawl budget-nya juga sedikit.

Crawl budget juga ditentukan berdasarkan tingkat authority sebuah website. Kalau Anda mampu membangun website dengan authority tinggi, maka Google akan menempatkannya sebagai prioritas.

Cara mengetahui kesalahan crawl budget:

  • Cermati statistik crawl pada Google Search Consol. Caranya, dapat dilakukan dengan menuju ke Search Console > Select Your Domain > Crawl > Crawl Stats.
  • Manfaatkan server log untuk mengetahui aktivitas Googlebot selama melakukan crawling di website.Di sini, Anda jadi tahu apakah crawler tersebut mengunjungi halaman yang tepat sesuai ekspektasi atau tidak.

Cara mengatasi masalah crawl budget:

  • Minimalkan jumlah error website. Caranya bisa dilakukan dengan menutupi berbagai kesalahan seperti yang telah disebutkan.
  • Blokir Googlebot dari halaman yang tak diinginkan.
  • Minimalkan adanya redirect chains di website.

Kalau Anda mempunyai website ecommerce, blokir tag parameter yang digunakan untuk faceted navigation.

13. Kurangnya pemanfaatan internal link

Internal link merupakan tautan yang menghubungkan antara masing-masing halaman dalam website. Anda akan menemukan adanya dua jenis internal link, yaitu:

  • Navigational link. Setiap website bakal mempunyai navigational link yang berfungsi untuk sarana navigasi sehingga memudahkan pengunjung dalam menemukan konten. Jenis link ini biasanya ditemukan pada menu, halaman kategori, ataupun homepage.
  • Contextual link. Tautan ini merupakan jenis link yang biasa ditemukan berada di dalam konten. Pemakaiannya ditujukan untuk mengarahkan pengunjung menuju ke tema yang berkaitan dengan konten tertentu.

Keberadaan internal link dalam bentuk apa pun tentu memberi manfaat untuk SEO. Internal link membuat Googlebot dalam melakukan aktivitas crawling. Dengan mengikuti jalur internal link website, crawler Google kemudian mampu menilai setiap halaman.

Internal link juga mempunyai fungsi untuk mendistribusikan kesetaraan antara masing-masing halaman. Hal ini penting karena berkaitan dengan cara Google memandang bahwa tidak semua halaman bernilai sama. Mereka akan menetapkan bahwa setiap page punya authority tertentu. Internal link digunakan dengan tujuan untuk meningkatkan authority halaman.

Hanya saja, tidak semua website memanfaatkan adanya internal link secara optimal. Website yang mempunyai banyak konten tak berbobot, umumnya punya internal link berjumlah minim. Alasan utamanya adalah karena mereka tak punya jenis konten berkualitas yang layak ditautkan.

Salin menautkan konten juga berpengaruh dalam upaya memberi rasa nyaman bagi pengunjung. Di waktu bersamaan, Anda juga dapat mendorong traffic pada konten-konten yang terkait. Hal ini pada akhirnya bisa mendorong peningkatan rangking SERP kata kunci konten tersebut.

Cara mengetahui kesalahan berkaitan internal link:

  • Cari tahu internal link pada halaman yang ingin ditingkatkan peringkat SERP-nya. Anda bisa melakukannya dengan berbagai tool; salah satunya lewat Google Analytics.
  • Jalankan aktivitas crawl internal link menggunakan Screaming Frog.
  • Periksa source code untuk masing-masing halaman. Langkah ini perlu dilakukan ketika Anda menggunakan plugin yang secara otomatis mengatur internal link dengan atribut nofollow.

Cara mengatasi permasalahan terkait internal link:

  • Fokus pada page yang ingin ditingkatkan peringkat SERP-nya. Cermati apakah ada peluang untuk menautkannya dengan konten lain. Pastikan bahwa kontennya memiliki keterkaitan topik atau tema.
  • Manfaatkan data crawl dari Screaming Frog untuk mengidentifikasi peluang menambahkan internal link.
  • Jangan terlalu banyak menambahkan internal link. Selain itu, manfaatkan kata kunci sebagai link.

Periksa pengaturan plugin yang berfungsi untuk mengelola link. Pastikan bahwa plugin itu tidak menggunakan pengaturan link NOFOLLOW.

14. Kesalahan pada SEO on page

SEO on page adalah upaya optimasi yang dilakukan saat membuat konten. Secara mendasar, beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam on page di antaranya:

  • Penggunaan kata kunci dalam 100 kata pertama
  • Pemakaian subheading yang disertai kata kunci
  • Intensitas penggunaan kata kunci yang tak terlalu banyaknya
  • Optimasi URL
  • Judul yang tak terlalu panjang disertai meta deskripsi
  • Optimasi gambar

Penerapan SEO on page tersebut harus dilakukan dengan tepat. Hanya saja, terkadang ada sebagian pemilik website yang melakukannya secara berlebihan, seperti spam kata kunci, judul terlalu panjang, ataupun penataan artikel yang tidak nyaman ketika dibaca.

Cara menemukan kesalahan berkaitan SEO on page:

  • Manfaatkan plugin Yoast untuk mengetahui sejauh mana optimasi setiap konten.
  • Jangan memanfaatkan meta deskripsi sebagai sarana untuk spam kata kunci. Terlebih, kalau penggunaannya tidak relevan dengan judul ataupun topik konten.
  • Gunakan layanan SEMrush dan Screaming Frog untuk mengidentifikasi adanya konten duplikat ataupun tag title yang terlewat.

Cara mengatasi masalah terkait SEO on page:

  • Penggunaan Yoast menjadi solusi praktis untuk menerapkan SEO on page secara efektif. Di sini, Anda akan menemukan adanya indikator berwarna hijau—tanda bahwa SEO on page sudah bagus. Jangan lupa untuk memaksimalkan penggunaan karakter pada judul serta meta deskripsi.
  • Manfaatkan SEMrush sebagai upaya untuk mengidentifikasi dan sekaligus memperbaiki judul konten yang hilang atau duplikat.

Hapus kata kunci yang tidak spesifik dari daftar meta keyword tag.

15. Data terstruktur

Komunikasi dengan mesin pencari Google harus dilakukan dengan cara yang tepat. Anda perlu menyesuaikan penggunaan bahasa yang mudah dipahami oleh algoritma Google. Caranya bisa dilakukan dengan menggunakan data terstruktur. Data tersebut tertata dengan berdasarkan klasifikasi tertentu.

Melalui penggunaan data terstruktur, Anda bisa menginformasikan data secara lebih detail dan lengkap kepada Google. Dengan bermodalkan data tersebut, Google kemudian menampilkannya dalam bentuk yang informatif. Para pengguna search engine paling suka dengan cara penyampaian informasi seperti ini.

Ada berbagai jenis data terstruktur yang bisa Anda manfaatkan, termasuk di antaranya adalah:

  • Data peta
  • Data review
  • Data rich snippet
  • Data produk
  • Review buku

Cara yang bisa Anda lakukan untuk menampilkan data terstruktur adalah melalui Schema.org atau biasa dikenal sebagai schema markup. Dengan cara ini, Anda punya metode praktis untuk memberi informasi yang mudah dipahami oleh algoritma mesin Google.

Adanya informasi ekstra yang dimunculkan berkat pemakaian schema markup bisa membuat website tampil beda di SERP. Menurut laporan Searchmetric, website yang menerapkan penggunaan data terstruktur memperoleh peringkat SERP yang lebih baik. Anda pun berpeluang mendapatkan traffic organik tinggi dengan cara ini.

Ada tiga alasan utama yang membuat pemakaian data terstruktur penting bagi para pemilik website, yaitu:

  • Upaya Google yang ingin meningkatkan user experience para penggunanya
  • Pengguna mesin pencari yang selalu menginginkan hasil pencarian berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan
  • Manfaat meningkatkan peringkat SERP yang dirasakan oleh pemilik website.

Hanya saja, tidak semua penerapan data terstruktur memberi hasil yang positif. Kalau penggunaannya dilakukan dengan benar, data terstruktur bisa menjadi nilai lebih yang membuat website terlihat unik di SERP. Hanya saja, kalau penambahan data terstruktur tidak berlangsung dengan benar, hal tersebut justru berdampak buruk pada SEO.

Untuk pembahasan berkaitan dengan optimasi menggunakan Schema.org, Anda bisa menjumpainya dalam pembahasan khusus lebih lanjut.

Cara menemukan kesalahan terkait data terstruktur:

  • Manfaatkan Google Search Console untuk mengidentifikasi schema markup yang digunakan Google. Periksa apakah terjadi kesalahan atau tidak. Caranya, dengan menuju ke Search Appearance > Structured Data.
  • Lakukan pengujian schema markup menggunakan Google Markup Helper.

Cara mengatasi masalah akibat pemakaian data terstruktur:

  • Lakukan identifikasi jenis schema markup yang ingin Anda gunakan. Selanjutnya, cari plugin yang relevan untuk mengaplikasikannya. Rekomendasi plugin yang bisa Anda manfaatkan adalah All in one Schema atau bisa pula memakai RichSnippets. Saat memutuskan penggunaannya, jangan lupa untuk terlebih dahulu melakukan pengujian.
  • Bagi yang tak menggunakan WordPress, Anda bisa memilih untuk merekrut developer. Selanjutnya, minta developer untuk membangun kode yang dapat mengakomodasi kebutuhan data terstruktur. Hal penting yang perlu diketahui, Google lebih suka penggunaan JSON-LD untuk pemanfaatan data terstruktur.

Nah, itulah 15 cara yang dapat Anda gunakan untuk melakukan technical SEO audit. Semoga bermanfaat, ya.

Share on twitter
Share on linkedin
Share on facebook

Baca Artikel Terkait

Siap Roketkan bisnismu?

Kuantitas dan kualitas trafik akan melonjak tajam. Pada akhirnya, kamu berpotensi meraih lebih banyak revenue (pendapatan) dan publisitas.

Contact

Subscribe